Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

PANJI CERITA PAGI

seorang anak dengan selembar surat izin pulang di hadapanku. ku tanya kenapa kau mau pulang, jawabnya singkat: " dikeluarkan, pak".
"kamu gak ikut UAS" tanyaku lagi.
"gak punya kartu pak" romannya suram.
"ibu bapakmu kemana? kan bisa dispen kalo salah satunya ke sekolah" penasaran aku selidiki
"gak ada pak, ibu di malaysia, bapak di singapura"
"kuli?" aku bilang untuk memperhalus kata TKI
"iya, pak". rupanya wajahnya mulai memerah.
"percuma pak disekolah juga, dua kali dikeluarkan, gak punya kartu UAS" air matanya mulai menggenang
"trus kamu mau pulang gitu?" aku desak dia
"iya, pak" air itu tumpah lalu ia duduk di lantai di samping kursiku.


Panji Nugraha Wibawa. Dia aku dulu. Tiga Belas tahun yang lalu. sebuah potret dari kondisi riil bangsa ini yang masih jauh dari kata sejahtera. miris memang. panji juga sakit hatinya. aku bisa merasakannya. tapi itulah hidup.
bukan persoalan pihak mana yang salah dalam kasus ini. sekolah manapun punya prosedur standar dan harus dilaksanakan oleh segenap civitas tanpa terkecuali.

semoga saja panji kuat dan kondisinya menjadi pemicu ia maju dan sukses.

sebenarnya jika kita mau membuka mata, ada banyak panji panji yang lain di negeri ini. yang ketika dihadapkan pada fakta ketidakmampuan, setiap kata-katanya tercekat di kerongkongan hingga hanya air yang mengalir di pipinya.

hal ini tentu harus menjadi pemikiran bersama, pemerintah dalam kapasitasnya sebagai pemimpin harus dapat memeratakan dan mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya. begitupun masyarakat pada umumnya, mesti ada kesadaran umum yang berbuah kerjasama dan gotong royong dalam mengatasi problem kemiskinan. pada kasus panji, beasiswa menjadi penting untuk dikaji ulang agar pemberiannya menjadi tepat sasaran dan efektif. tak lantas sekedar formalitas yang berujung ketidakadilan pada tatanan realitas kesehariannya.

bla,,,bla,,,bla,,,



Kamis, 25 September 2014

ARI PANGALAMAN

berawal dari kompromi, akhirnya aku makan juga nasi bungkus itu, aku cicipi juga kue itu. Aku berharap semua akan biasa saja, sebab ada alasan: " ah, sugan we nu kadahar teh bagianna, hak abdi, jadi kaasup halal, lain ti dana B*S anu lain hakna sareng teu kalebet dina juknisna".

ternyata, heu da keukeuh.
memang, susah ngabuktikeun eta dahareun nu didahar teh asalna tina dana naon, jeung eta teh kalebet hak teu. halal atanapi haramna. syubhat meureun kituh. sulit ngabuktikeunana. cuma ari emutan abdi mah, diraoskeun akibatna.

ternyata, akibatna teh, meni karaos pisan:
1 jam setelah makan, shalat isya telat, wirid alpa,
2 jam setelah makan, badan pegel2, punduk beurat, rada muriang
3 jam setelah makan, pekerjaan terbengkalai. malas dan ngantuk datang
3,5 jam setelah makan, tertidur dan meninggalkan shalat+wirid

astaghfirullah. komo lamun nu jelas2 haram. nu syubhat oge akibatna jiga kitu goreng na.

Selasa, 12 Agustus 2014

LAPORAN KEPADA IBU

Mi,
Endah teh ayeuna mah bageur pisan
Karaos ku abdi nu janten caroge na
Mugia kapayunna langkung sae,
Tiasa janten istri solehah,

Oya, Mi!
Endah ayeuna mah ngawulang di madrasah
Pedah sok paciweuh sareng si icha
maklum si icha mah lucu, berantakan, sareng sakarep nyalira
tapi da bageur pisan
Nepi ka mamaungan ge hayeuh we diajak sasalaman
bari jeung dicucup deui panangan maung na teh
tah eta si icha teh incu Mimi...

Sabtu, 21 Juni 2014

Taat

Jangan salah taat,
Pilih ketaatan pada Allah,
Pilih Ketaatan pada Rasulallah Muhammad
Pilih Ketaatan pada Orangtua (bagi Laki-Laki)
Pilih Ketaatan pada Suami (bagi Perempuan)

#pelajaran dasar syari'at

Rabu, 29 Mei 2013

Perjalanan_2; waktu

Perjalananku kini sampai pada satu titik kesadaran betapa pentingnya waktu. Surat wal'ashri bukan inspirasiku tapi jujur itu sepenuhnya benar. Kerapkali aku belum mahir memenejement waktu agar semua berjalan lancar dan semua target hidup tercapai.

Misalnya saja masih harus banyak belajar bagaimana bisa shalat tepat di awal waktu, kerja tepat waktu dan konsisten, mengisi waktu bersama keluarga, mengisi waktu untuk silaturrahim, mengisi waktu untuk kegiatan sosial, menyempatkan waktu untuk melaksanakan tugas perjalanan.

Tentu ini menjadi perenungan saya agar ke depan diperbaiki. Sebab saya juga yakin, kesuksesan ditentukan hari ini, di sini. Kesuksesan nanti yang lebih besar hanya persoalan akumulasi dan wujud yang agak berbeda saja, padahal sama.

Rabu, 05 September 2012

Jogja dan Tentang (calon) Istri Saya

Beberapa hari yang lalu saya merasa senang sekali. Bagaimana tidak, saya berkesempatan jalan-jalan ke Yogyakarta dengan tunangan saya, juga keluarganya. Meski cuma satu tempat wisata yang sempat kami kunjungi, tak membuat rasa senang saya berkurang. Sebab memang tujuan kami ke sana bukan dalam rangka bertamasya. Tujuan kami ke sana adalah menghadiri wisuda sarjana Adik dan Kakak (calon) istriku. Saya senang sebab ada seorang (calon) istri yang menemani saya. Dia juga yang memanjakan saya dengan tutur katanya, dengan apa yang dia suguhkan semisal makanan, bahkan hingga ia ambilkan handuk dan peralatan mandi.

Saya baru menyadari betapa istimewanya (calon) istri saya ini. Ia begitu perhatian dan baik hati. Pada awalnya saya menyangka dia jutek alias cuek. Tapi nyatanya tidak; saya temukan fakta yang sebaliknya; dia begitu perhatian dan baik hati. Itu saja cukup buat saya mengetahui bahwa ia adalah (calon) istri yang lembut hatinya, baik perangainya, dan putih jiwanya.

Tiga hari dua malam kami ber-duapuluh-an di sana. Sebuah keluarga yang--terbilang--besar dengan sanak family yang akrab dan hangat. Sungguh suasana yang cukup membuat saya betah dan nyaman.Saya, secara pribadi, punya kesempatan untuk mengenal keluarga (calon) istri lebih dekat lagi. Dan saya merasa kehadiran saya dapat mereka terima apa adanya. Mereka welcome pada saya tanpa embel-embel atau atribut apapun. Itu yang membuat saya enjoy berada di tengah-tengah mereka.

bersambung,,,coz keburu laper n mo balik ke rumah,,,hehe 

Sabtu, 11 Agustus 2012

Mengingat Shalat

Bismillah,,
Lama tak menulis, nyaris gila. Hahaha....
oke, lets we begin!

Beberapa minggu ke belakang, saya dengan dua partner saya menjadi pembimbing pada pelaksanaan kegiatan Pesantren Ramadhan di sekolah. Singkat cerita, saya diberi tanggungjawab untuk memberikan materi akhlak, sementara Al-Qur'an dan Fiqh shaum oleh dua teman saya tadi.

Sebenarnya berat juga mengampu materi itu. Tapi saya coba. Pertimbangan berat karena memang persoalan akhlak menjadi persoalan yang komprehensif menyangkut semua lini kehidupan. Alih-alih, saya sendiri sebagai guru belum mampu menjadi manusia yang sepenuhnya dapat melaksanakan akhlak sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Pertimbangan itu pula yang lalu membuat saya berpikir untuk menyampaikan materi lain. Namun tentu tetap berkaitan dengan akhlak. Lalu saya ambil tema sederhana yaitu SHALAT.

Sabtu, 05 Mei 2012

PUING-PUING TETAKDIR

Sekedar mengobati rasa kesal saja, aku ingin menulis. Ingin sekali. Suatu hari aku diutus. Resmi. Atas nama lembaga. Namun sesalku, tak ada yang peduli. Terasa sekali sepi saat teman-teman yang lain mendapat kabar dan telp dari 'orangtua' mereka yang mengutus mereka dalam sebuah tugas.

Tapi tidak denganku. Berkali-kali ku lirik handphone-ku. Sepi saja. Mungkin sedang sibuk, pikir baikku. Aku paksakan diri mengabari sesuatu pada indukku. Tak ada jawaban. Masih tak ada jawaban. Bahkan hingga aku menulis di sini, tak ada sepatah kata pun. Sepertinya keterlaluan untuk orang se-terhormat indukku. Kalau finansial aku pikir nomor dua. Tak dapat pesangon atau, katakanlah, Ongkos tak terlalu mengeluh aku, toh aku masih dapat biaya akomodasi dan bisa menutupi semua biaya perjalananku itu. Meski pas-pasan. Tapi tak digubris, diperhatikan, atau ditanya, aku pikir itu diluar batas kewenangannya sebagai indukku.

Tuhan barangkali sedang mengajariku arti ikhlas yang sesungguhnya. Begitukah? atau mengajariku 5 huruf, s a b a r; begitukah? atau Tuhan sedang menunjukkan satu model akhlak yang tidak boleh aku tiru; begitukah? Aku pikir begitu. Hm, ya ya ya.

Oh Tuhan, Caramu menyentuh makhlukmu memang selalu penuh misteri, kejutan, dan kadang bikin tersipu dan tersanjung Engkau buat. Yang jelas, dari pelatihan itu aku masih dapat ilmu yang tak semua orang dapat. Aku juga masih dicerahkan Tuhan atas beberapa hal yang aku pelajari barusan.

Thanks God, masih ada saja yang bisa aku pungut dari puing-puing tetakdirmu, Tuhan.

Senin, 16 April 2012

KUTITIP SATU CINTAKU YA ALLAH [♥]

Allah aku titip,
yang aku cinta itu Dia,
yang mengisi hari dan jiwa,

Allah titip aku,
Cinta biru,
menjalar-jalar sepanjang malam,

Allah aku titip,
darah cinta yang merah,
di medan perang
jadikan tinta melukis sejarah dan perjuangan,
kami,

Allah aku cinta,
dia yang keteguhannya, kasihsayangnya,
karena Engkau hanya untukku,

Allah,
meski ia jauh namun kau dekatkan,

Kamis, 21 Oktober 2010

KENAPA KITA DIANJURKAN MEMBACA AL-QUR'AN

Orangtua kita dengan bijak meminta kita untuk belajar membaca al-Qur'an. Agar kita senantiasa membacanya, terus dan terus.Sebuah kisah barangkali dapat menjadi inspirasi agar kita gemar membaca al-Qur'an.

Alkisah. Seorang anak kecil di pedalaman Amerika yang muslim bertanya pada kakeknya, seorang saleh meski awam,
"kek, kenapa kita dianjurkan membaca al-Qur'an? padahal kita tak mengerti satu hurup pun".
Sang kakek hanya diam. Lalu ia menunjuk sebuah keranjang dari rotan kepada cucu tercintanya. Si cucu mengerti dan segera mengambil keranjang itu. Kakek pun berkata,
"cucuku, bawalah keranjang itu dan pergi ke sungai, bawakan aku air!".

Tanpa banyak bertanya si cucu beranjak. Sambil berlari ke sungai. Ia kais sebanyak-banyaknya air dari sungai dan dengan gesit ia berlari membawa air itu dengan keranjangnya. Sesampai di hadapan kakeknya, air itu pun telah tiada. tumpah ruah di jalan saat ia berlari. Anak itu melongo melihat airnya raib. Kakeknya meminta si cucu melakukannya lagi. Lalu ia pun kembali pergi ke sungai, berlari lebih cepat lagi dari sebelumnya. Terus begitu hingga tiga kali. Tapi air yang kakek minta tak jua kunjung ada.

Rupanya si cucu sadar, apa yang dilakukannya sia-sia. Sambil merengek ia pun protes,
"kek, bagaimana mungkin aku dapat mengambil air, sementara keranjang rotan itu bolong-bolong dan air tumpah sebelum aku sampai di hadapanmu".
Si kakek tersenyum, menang. Dengan bijak ia berkata,
"Kau memang tidak berhasil mengambilkan air untukku, tapi liat keranjangmu sekarang, ia menjadi bersih daripada sebelumnya".
"Bagitu juga jiwamu" si kakek melanjutkan "Kau juga aku tak mengerti sehurup pun dari al-Qur'an, tapi dengan sering membacanya, InsyaAllah jiwa kita bersih, halus, dan putih".

Si Cucu mengangguk mengerti apa yang dimaksud kakeknya. Sejak itu ia bertekad ingin menjadi ahli membaca al-Qur'an. Seperti juga kakeknya. Kemanapun ia pergi, al-Qur'an dibawanya serta. dibacanya. Terus dibaca. Masih terngiang di telinganya, suara kakek membaca al-Qur'an. Dan tiap pagi di masa kecilnya, ia selalu terbangun dengan suara itu ketika hari masih terlalu dini untuk dijalani.

(diceritakan kembali dari dudung.net)

Kamis, 14 Oktober 2010

BERMINAT MENJADI PENULIS?

Menulis. Kata itu yang selalu menghantui. Mendengar kata-kata itu adrenalinku lari, memburu tak keruan. Sejujurnya aku ingin menjadi penulis. Sebuah cita-cita yang hingga kini masih cukup sulit ku raih. Sebab ternyata menjadi penulis itu dinamis; kemarin kita penulis, entah sekarang apalagi besok, sekarang kita penulis, tidak kemarin dan entah esok.

Itulah. Penulis adalah orang yang selalu menulis, di mana pun. Apa yang dipikirkan dan dilihatnya mewujud kata-kata. Penulis sebenarnya lebih banyak memiliki pasar dalam pikirannya dibanding siapapun. Kadang ia tak sempat untuk terlalu banyak bicara dan sibuk berdebat dengan pikiran dan penanya.

Bagiku, penulis adalah pemikir sekaligus. Sebab tiap hurup tulisan adalah gagasan yang lahir hanya dari pikiran. Dinamika dan pergulatan yang menarik. Segala yang dicerap dikunyah hingga lebur, ditelan, lalu diendapkan menjadi energi dan dikeluarkannya dalam sebentuk karya.

Nyaris tiap orang merasa dirinya ingin menjadi penulis. Tetapi seringkali sulit. Memang banyak kasus menunjukkan kenyataan itu. Anda jugakah? Dalam pandanganku itu disebabkan beberapa hal;

Pertama, kita menulis karena itu sakit hati atau sedang jatuh cinta. itu pun sebatas puisi dan coretan-coretan serabutan yang tak tentu bentuknya.
Kedua, kita selalu ingin tulisan kita dibaca orang. Kita tidak pernah membayangkan ada orang yang menulis hanya untuk disimpan seumur hidup dan tak mau dibaca orang. Bagaimana dengan diary? pada akhirnya tentu ingin dibaca dan dikenang bukan?
Ketiga, kita menulis ketika ada mood. Itu yang sering saya rasakan. Sepertinya modal kita menulis bukan keinginan dan wawasan, tapi mood. Kalau begitu berdoalah agar mood itu selalu menaungi kita. ironis bukan?

Bagi anda yang berminat menjadi penulis saya punya trik yang sudah dicoba dan ternyata sangat manjur. Banyak orang menjadi penulis karena mempraktikkan tiga trik ini. Berikut triknya:
Langkah pertama adalah Menulislah!
Langkah kedua yaitu Menulislah!
Langkah terakhir adalah Menulislah!

Nah, tiga langkah itu yang akan menjadikan anda seorang penulis hebat! Percayalah!
Jika anda tak punya gambaran awal tentang apa itu dunia menulis, berikut beberapa kisah para penulis hebat:

1. Al-Ghazali, seorang Imam besar, Rektor Al-Azhar pertama (ketika itu masih bernama Univ. Nidzam al_Mulk) mendedikasikan dirinya untuk agama, ilmu, Sufistik, dan dunia kepenulisan. Ratusan kitab ia karang. Dia boleh mati. Dan kita tahu itu. Tetapi ia hidup hingga kini sebab karya-karyanya menjadi masterpiece dan rujukan utama bagi para ilmuwan dan bahkan kalangan pesantren di mana pun.

2. Suhrawardi, Filosof yang terbilang muda. Ia adalah ilmuwan muslim progresif. Di usia 38 tahun ketika ia wafat diracun penguasa yang berang dengan tulisannya, ia telah mengarang tidak kurang dari 38 Kitab-kitab penting. Ada banyak ilmuwan dan filosof muslim sekaligus mereka adalah penulis, seperti: Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Tufail, dll. Ibn Tufail adalah orang yang mengarang kitab "Hay Bin Yaqdzan" yang di kemudian hari menjadi inspirasi bagi lahirnya film legendaris "Tarzan".

3. Imam Muslim, penulis Hadits dan Ahli Hadits. Ia bersama legenda Hadits terkenal lainnya, salah satunya Imam Bukhari, adalah penulis hadits paling produktif. Hidupnya penuh didedikasikan untuk ilmu dan menulis. Setiap ia hendak menulis sebuah hadits, shalatlah ia dua rakaat dan memohon pertolongan dan perlindungan Allah, agar apa yang ditulisnya adalah benar dan bermanfaat. Terus saja begitu. Hingga ribuan hadits terkumpul dengan rapi dalam masterpiece nya.

4. Pramoedya Ananta Toer, tokoh Nasional dalam bidang sastra, dia mendapat penghargaan sebagai sastrawan Asia dan diakui kehebatan karya-karyanya. Hidupnya banyak dihabiskan di penjara sebab kritikan dan sebagian tulisan-tulisannya yang menukik dan menusuk penguasa. Apa yang ia dongengkan saban hari kepada rekan-rekannya di penjara kemudian ia tulis menjadi banyak buku Novel. Tetralogi Ananta Toer atau Tetralogi Pulau Buru adalah karya agung dan Novel Legendaris yang hingga hari ini belum dapat tergantikan oleh karangan yang lain.

Itu sementara beberapa gambaran tentang penulis. Ada banyak hal yang ingin saya tulis. Tetapi rupanya jari-jari saya tak mampu mengejar lompatan-lompatan ide-ide saya yang lahir terlalu cepat dan lari entah ke belahan dunia mana. Namun suatu saat akan saya cari dan ikat dengan tulisan. "al-Ilmu Shoidun, wa Al-Kitabatu Qoiduhu". Lalu apakah anda kini berminat menjadi penulis?

Jumat, 27 Agustus 2010

SERVICE MESIN (PUISI)

Siang ini aku tak mau berpuisi. Aku lelah. Tiba-tiba saja aku jenuh merangkai kata yang rumit dan kadang tak ku pahami makna utuhnya.

Semenjak aku lama tak menulis artikel, aku seperti tubuh tanpa tulang, lemas lunglai. Puisi saja, kadang, membuatku lemah.

Jujur, menurutku sendiri, puisiku masih berantakan. Ternyata benar apa yang dikatakan ke Faaizi, menulis puisi sama susahnya seperti mengarang sebuah Novel atau bahkan membangun rumah. Apa yang menurut kita bagus ternyata kering makna; Sesuatu yang kita paksakan makna termuat di dalamnya ternyata tidak dapat ditampilkan dengan bahasa yang baik dalam bentuk puisi. Ada dilema antara Makna dengan kata. Seseorang yang mahir berpuisi mampu mengompromikan keduanya menjadi serasi melebihi suami istri. Sementara bagi pemula sepertiku, sulitnya minta ampun. Selalu saja perkelahian yang terjadi; selalu saling mengalahkan. Ya, itulah proses, barangkali.

Sementara aku berjalan sendiri dan tanpa ada yang bicara kanan kiri. Puisiku tak berbengkel apalagi onderdil dan jasa servis seperti kebanyakan puisi para seniman lain.

Sampai detik ini aku menulis puisi sebab aku masih yakin, masih banyak yang belum aku gali, masih banyak yang belum terungkapkan melalui bahasa sunyi, padahal hidup mesti selalu kita syukuri.

Lewat puisi, ekspresi menjadi begitu luas, dunia begitu lebar. Dan aku bisa menjadi diriku sendiri. Sesekali aku numpang gila dan melupakan segala hidup di gubuk kata-kata. Di situlah aku temukan sejenak ketenangan.

Ah sudahlah..

Aku maknai perjalanan ini sebagai sebuah fase dari rangkaian perjalanan. Dulu artikel, kini puisi, lalu apalagi?!?!?!?

Minggu, 08 Agustus 2010

Ramadhanku

Aku berlari ceria pada malam pertama Ramadhan.
Ku nyalakan kembang api. Teman-temanku juga begitu.
Kami berlari mengitari halaman masjid yg redup.
Sejak malam itu, cahaya bintang adalah senyum buat kami.
Rasanya, tak ada keceriaan malam selain malam-malam bulan Ramadhan.
Alunan puji-pujian terus terngiang di telinga.
Tak kami hiraukan. Sebab kami sibuk dengan permainan kami sendiri.
kami bahagia meski dibayar keringat bercucuran dan kadang sesekali jatuh tersandung.
Itu Ramadhan belasan tahun silam.
***
Bintang tetap bertaburan.
Tapi ditingkahi sepi yang menelusup relung terdalam jiwa ini.
Lamat-lamat dzikir bergantian dengan kerisauan dan rindu menempati pikiran dan imaji.
Sungguh malam mengharukan.
Masih sempat terdengat anak-anak tertawa di beranda.
Gubuk yang ku tempati terlalu reot untuk menampung rinduku.
Tak tertahan. Akhirnya meluber menjadi tangis lirih.
Itulah pertama kali aku menangis karena rindu pada keluargaku.
Sungguh Ramadhan yang berkesan.
.......To be Continue.......

Selasa, 20 Juli 2010

Kali Ini Bukan Puisi


Hidup terus berjalan/
dan kita terus dibayangi masa lalu/

Masih lekat di benakku/
Sapaan dan Senyum itu/

Aku merasakan kebahagiaan/
Ketika mereka di sampingku,
Dengan antusias mendengarkan dongengku/

Tiap kali aku masuk kelas/
Segera mereka berkerubung/
Aku bisa membaca pikiran mereka/
benak mereka mencoba menerka;
"kisah apalagi yang akan diceritakan?"

Aku senang menjadi pendongeng/
Itulah hobiku/

Aku rindu/
Itulah saat-saat berharga/
Ketika aku merasa betul-betul dihargai/
Ucapan dan setiap kata-kataku/

Mereka adalah anak-anak generasi negeri ini/
Mereka saat ini butuh cerita tentang kejayaan, optimisme, dan masa depan/
Agar mereka bangkit/

Mereka sebenarnya merengek/
Ingin tahu siapa Nabi mereka/
Seperti apakah profil orang-orang saleh/

Sebab mereka sedang mencari cermin/
Ingin seperti apa mereka kelak/

Negeri ini butuh pendongeng/
yang tidak hanya bercerita/
Tetapi mampu mengajak anak2/
Menjadi tokoh dalam cerita itu/
Menjadi pahlawan/

Seseorang yang mampu Menggetarkan Mereka/
Menghidupkan Imajinasi mereka/
Membuat mereka tercengang dan susah tidur/

Sebab kita masih yakin/
Mereka diciptakan dari Kesucian/

Ini bukan puisi/
Tapi narasi/
Juga saksi/

Bahwa masih banyak anak2 negeri ini/
Yang cita-cita, kegembiraan, dan masa depan mereka/
Seringkali diremehkan/

Minggu, 16 Mei 2010

Memaknai Masalah

Seperti hari kemarin, hari ini terdiri dari 24 jam. Bedanya, hari ini terasa padat. Kata orang itu kesibukan.

Meski tidak banyak kisah yang perlu diceritakan. Sebab semua tampak biasa dan wajar. Namun dibalik semua rangkaian peristiwa hari ini, ada sejuta kedalaman dari pergolakan dan perdebata hati dimana semua hal terpikirkan dan terimaji. Itulah hati dan pikiran yang jangkauannya melampaui alam riil ini.

Dari kedalaman itulah juga cerita ini lahir, mengalir begitu saja.
Entah apa yang terjadi, apa yang kita rencanakan kerap tidak sesuai dengan kenyataan. Tadi pagi pergi ke sekolah. Maksud hati hendak melatih anak-anak. dalam pikiran: saya datang, latihan mulai, segera berakhir dan pergi untuk menyongsong aktivitas lain.

Nampaknya simpel. Mudah. Tetapi ternyata tidak demikian. Tiba-tiba anak-anak, tak seperti biasanya, hanya tiga orang yang datang. Itupun terlambat. Acara latihan lalu molor. ah...(pikirku)

Sorenya, acara tahlil rencana mau dilaksanakan ba'da isya', ternyata dengan tergopo harus dilaksanakan ba'da maghrib. Ujung-ujungnya acara tahlil tak sesuai dengan harapan, rada acak-acakan.

Itulah hidup. Dari rangkaian cerita tadi saja kita dapat menarik benang merah, MASALAH LAHIR SEBAB TIMBUL KESENJANGAN ANTARA HARAPAN DENGAN KENYATAAN, ANTARA RENCANA DENGAN PELAKSANAAN, ANTARA PIKIRAN DENGAN REALITAS.
Mengutuk kenyataan dan kegagalan dalam melaksanakan rencana tentu bukan sikap tepat. Saya sadar, apa yang telah terjadi tadi adalah kehendak Allah. Toh, dibenak saya, semua yang dilakukan adalah kekuatan maksimal. Pada akhirnya saya dipaksa pasrah dan tabah.

Memang, nilai lain dari kejadian adalah saya mengambil pelajaran agar kejadikan seperti tadi tidak terulang.

Sabtu, 15 Mei 2010

Kata Hati

Akhir-akhir ini banyak hal yang dijumpai. Segala kekusutan hidup menggelembung, membumbung, kemudian menggunung. Tak ada Cinta apalagi kesenangan. Beginilah hidup dalam kenyataan.
Aku terdampar di suatu tempat. Tiba-tiba aku berada pada paruh perjalanan sebuah pencapaian. Sulit. Semua terasa rumit. Aku lalu bertanya, apa gerangan yang tengah terjadi? Aku tersadar, bahwa separuh perjalanan yang telah kulewati sepi dari tanda tanya. Salahnya, aku biarkan saja.
Berkali-kali aku bersandar pada entah. Pada Allah. Namun ujian tak kunjung reda. Aku sadar, itulah hidup.
Kini yang tersisa dari diriku hanyalah keyakinan pada hari esok yang lebih baik. Aku optimis, apa yang telah aku usahakan adalah ikhtiar. Tidaklah salah. Malah positif. Meski di ujung sebuah pencapaian, hasilnya tak seperti yang kita bayangkan.
Subhanallah. Rabbana Maa Khalaqta Haadzaa baathila..
Kokohkan aku, ya Allah!

Hidup Tanpa Spasi

Langkah pertama, kata orang, selalu sulit. Kebanyakan itu benar. Seperti memulai mengerjakan sesuatu. Apalagi untuk sesuatu yang besar plus minus profit.
Tiap orang punya pandangan dan pendapat. Tetapi semuanya diikat dengan 'kecenderungan' dan tunduk pada kodrat. Tidak dapat melewati itu. Tugas manusia hanya menjaga seutas garis lurus. Agar keserakahan dan kelalalain tidak membelokkan apalagi menghapus garis itu.


SELAMAT BERDISKUSI DENGAN DIRI SENDIRI