Sabtu, 05 Mei 2012

PUING-PUING TETAKDIR

Sekedar mengobati rasa kesal saja, aku ingin menulis. Ingin sekali. Suatu hari aku diutus. Resmi. Atas nama lembaga. Namun sesalku, tak ada yang peduli. Terasa sekali sepi saat teman-teman yang lain mendapat kabar dan telp dari 'orangtua' mereka yang mengutus mereka dalam sebuah tugas.

Tapi tidak denganku. Berkali-kali ku lirik handphone-ku. Sepi saja. Mungkin sedang sibuk, pikir baikku. Aku paksakan diri mengabari sesuatu pada indukku. Tak ada jawaban. Masih tak ada jawaban. Bahkan hingga aku menulis di sini, tak ada sepatah kata pun. Sepertinya keterlaluan untuk orang se-terhormat indukku. Kalau finansial aku pikir nomor dua. Tak dapat pesangon atau, katakanlah, Ongkos tak terlalu mengeluh aku, toh aku masih dapat biaya akomodasi dan bisa menutupi semua biaya perjalananku itu. Meski pas-pasan. Tapi tak digubris, diperhatikan, atau ditanya, aku pikir itu diluar batas kewenangannya sebagai indukku.

Tuhan barangkali sedang mengajariku arti ikhlas yang sesungguhnya. Begitukah? atau mengajariku 5 huruf, s a b a r; begitukah? atau Tuhan sedang menunjukkan satu model akhlak yang tidak boleh aku tiru; begitukah? Aku pikir begitu. Hm, ya ya ya.

Oh Tuhan, Caramu menyentuh makhlukmu memang selalu penuh misteri, kejutan, dan kadang bikin tersipu dan tersanjung Engkau buat. Yang jelas, dari pelatihan itu aku masih dapat ilmu yang tak semua orang dapat. Aku juga masih dicerahkan Tuhan atas beberapa hal yang aku pelajari barusan.

Thanks God, masih ada saja yang bisa aku pungut dari puing-puing tetakdirmu, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda