Minggu, 08 Agustus 2010

Ramadhanku

Aku berlari ceria pada malam pertama Ramadhan.
Ku nyalakan kembang api. Teman-temanku juga begitu.
Kami berlari mengitari halaman masjid yg redup.
Sejak malam itu, cahaya bintang adalah senyum buat kami.
Rasanya, tak ada keceriaan malam selain malam-malam bulan Ramadhan.
Alunan puji-pujian terus terngiang di telinga.
Tak kami hiraukan. Sebab kami sibuk dengan permainan kami sendiri.
kami bahagia meski dibayar keringat bercucuran dan kadang sesekali jatuh tersandung.
Itu Ramadhan belasan tahun silam.
***
Bintang tetap bertaburan.
Tapi ditingkahi sepi yang menelusup relung terdalam jiwa ini.
Lamat-lamat dzikir bergantian dengan kerisauan dan rindu menempati pikiran dan imaji.
Sungguh malam mengharukan.
Masih sempat terdengat anak-anak tertawa di beranda.
Gubuk yang ku tempati terlalu reot untuk menampung rinduku.
Tak tertahan. Akhirnya meluber menjadi tangis lirih.
Itulah pertama kali aku menangis karena rindu pada keluargaku.
Sungguh Ramadhan yang berkesan.
.......To be Continue.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda