Orangtua kita dengan bijak meminta kita untuk belajar membaca al-Qur'an. Agar kita senantiasa membacanya, terus dan terus.Sebuah kisah barangkali dapat menjadi inspirasi agar kita gemar membaca al-Qur'an.
Alkisah. Seorang anak kecil di pedalaman Amerika yang muslim bertanya pada kakeknya, seorang saleh meski awam,
"kek, kenapa kita dianjurkan membaca al-Qur'an? padahal kita tak mengerti satu hurup pun".
Sang kakek hanya diam. Lalu ia menunjuk sebuah keranjang dari rotan kepada cucu tercintanya. Si cucu mengerti dan segera mengambil keranjang itu. Kakek pun berkata,
"cucuku, bawalah keranjang itu dan pergi ke sungai, bawakan aku air!".
Tanpa banyak bertanya si cucu beranjak. Sambil berlari ke sungai. Ia kais sebanyak-banyaknya air dari sungai dan dengan gesit ia berlari membawa air itu dengan keranjangnya. Sesampai di hadapan kakeknya, air itu pun telah tiada. tumpah ruah di jalan saat ia berlari. Anak itu melongo melihat airnya raib. Kakeknya meminta si cucu melakukannya lagi. Lalu ia pun kembali pergi ke sungai, berlari lebih cepat lagi dari sebelumnya. Terus begitu hingga tiga kali. Tapi air yang kakek minta tak jua kunjung ada.
Rupanya si cucu sadar, apa yang dilakukannya sia-sia. Sambil merengek ia pun protes,
"kek, bagaimana mungkin aku dapat mengambil air, sementara keranjang rotan itu bolong-bolong dan air tumpah sebelum aku sampai di hadapanmu".
Si kakek tersenyum, menang. Dengan bijak ia berkata,
"Kau memang tidak berhasil mengambilkan air untukku, tapi liat keranjangmu sekarang, ia menjadi bersih daripada sebelumnya".
"Bagitu juga jiwamu" si kakek melanjutkan "Kau juga aku tak mengerti sehurup pun dari al-Qur'an, tapi dengan sering membacanya, InsyaAllah jiwa kita bersih, halus, dan putih".
Si Cucu mengangguk mengerti apa yang dimaksud kakeknya. Sejak itu ia bertekad ingin menjadi ahli membaca al-Qur'an. Seperti juga kakeknya. Kemanapun ia pergi, al-Qur'an dibawanya serta. dibacanya. Terus dibaca. Masih terngiang di telinganya, suara kakek membaca al-Qur'an. Dan tiap pagi di masa kecilnya, ia selalu terbangun dengan suara itu ketika hari masih terlalu dini untuk dijalani.
(diceritakan kembali dari dudung.net)
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 Oktober 2010
Kamis, 14 Oktober 2010
BERMINAT MENJADI PENULIS?
Menulis. Kata itu yang selalu menghantui. Mendengar kata-kata itu adrenalinku lari, memburu tak keruan. Sejujurnya aku ingin menjadi penulis. Sebuah cita-cita yang hingga kini masih cukup sulit ku raih. Sebab ternyata menjadi penulis itu dinamis; kemarin kita penulis, entah sekarang apalagi besok, sekarang kita penulis, tidak kemarin dan entah esok.
Itulah. Penulis adalah orang yang selalu menulis, di mana pun. Apa yang dipikirkan dan dilihatnya mewujud kata-kata. Penulis sebenarnya lebih banyak memiliki pasar dalam pikirannya dibanding siapapun. Kadang ia tak sempat untuk terlalu banyak bicara dan sibuk berdebat dengan pikiran dan penanya.
Bagiku, penulis adalah pemikir sekaligus. Sebab tiap hurup tulisan adalah gagasan yang lahir hanya dari pikiran. Dinamika dan pergulatan yang menarik. Segala yang dicerap dikunyah hingga lebur, ditelan, lalu diendapkan menjadi energi dan dikeluarkannya dalam sebentuk karya.
Nyaris tiap orang merasa dirinya ingin menjadi penulis. Tetapi seringkali sulit. Memang banyak kasus menunjukkan kenyataan itu. Anda jugakah? Dalam pandanganku itu disebabkan beberapa hal;
Pertama, kita menulis karena itu sakit hati atau sedang jatuh cinta. itu pun sebatas puisi dan coretan-coretan serabutan yang tak tentu bentuknya.
Kedua, kita selalu ingin tulisan kita dibaca orang. Kita tidak pernah membayangkan ada orang yang menulis hanya untuk disimpan seumur hidup dan tak mau dibaca orang. Bagaimana dengan diary? pada akhirnya tentu ingin dibaca dan dikenang bukan?
Ketiga, kita menulis ketika ada mood. Itu yang sering saya rasakan. Sepertinya modal kita menulis bukan keinginan dan wawasan, tapi mood. Kalau begitu berdoalah agar mood itu selalu menaungi kita. ironis bukan?
Bagi anda yang berminat menjadi penulis saya punya trik yang sudah dicoba dan ternyata sangat manjur. Banyak orang menjadi penulis karena mempraktikkan tiga trik ini. Berikut triknya:
Langkah pertama adalah Menulislah!
Langkah kedua yaitu Menulislah!
Langkah terakhir adalah Menulislah!
Nah, tiga langkah itu yang akan menjadikan anda seorang penulis hebat! Percayalah!
Jika anda tak punya gambaran awal tentang apa itu dunia menulis, berikut beberapa kisah para penulis hebat:
1. Al-Ghazali, seorang Imam besar, Rektor Al-Azhar pertama (ketika itu masih bernama Univ. Nidzam al_Mulk) mendedikasikan dirinya untuk agama, ilmu, Sufistik, dan dunia kepenulisan. Ratusan kitab ia karang. Dia boleh mati. Dan kita tahu itu. Tetapi ia hidup hingga kini sebab karya-karyanya menjadi masterpiece dan rujukan utama bagi para ilmuwan dan bahkan kalangan pesantren di mana pun.
2. Suhrawardi, Filosof yang terbilang muda. Ia adalah ilmuwan muslim progresif. Di usia 38 tahun ketika ia wafat diracun penguasa yang berang dengan tulisannya, ia telah mengarang tidak kurang dari 38 Kitab-kitab penting. Ada banyak ilmuwan dan filosof muslim sekaligus mereka adalah penulis, seperti: Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Tufail, dll. Ibn Tufail adalah orang yang mengarang kitab "Hay Bin Yaqdzan" yang di kemudian hari menjadi inspirasi bagi lahirnya film legendaris "Tarzan".
3. Imam Muslim, penulis Hadits dan Ahli Hadits. Ia bersama legenda Hadits terkenal lainnya, salah satunya Imam Bukhari, adalah penulis hadits paling produktif. Hidupnya penuh didedikasikan untuk ilmu dan menulis. Setiap ia hendak menulis sebuah hadits, shalatlah ia dua rakaat dan memohon pertolongan dan perlindungan Allah, agar apa yang ditulisnya adalah benar dan bermanfaat. Terus saja begitu. Hingga ribuan hadits terkumpul dengan rapi dalam masterpiece nya.
4. Pramoedya Ananta Toer, tokoh Nasional dalam bidang sastra, dia mendapat penghargaan sebagai sastrawan Asia dan diakui kehebatan karya-karyanya. Hidupnya banyak dihabiskan di penjara sebab kritikan dan sebagian tulisan-tulisannya yang menukik dan menusuk penguasa. Apa yang ia dongengkan saban hari kepada rekan-rekannya di penjara kemudian ia tulis menjadi banyak buku Novel. Tetralogi Ananta Toer atau Tetralogi Pulau Buru adalah karya agung dan Novel Legendaris yang hingga hari ini belum dapat tergantikan oleh karangan yang lain.
Itu sementara beberapa gambaran tentang penulis. Ada banyak hal yang ingin saya tulis. Tetapi rupanya jari-jari saya tak mampu mengejar lompatan-lompatan ide-ide saya yang lahir terlalu cepat dan lari entah ke belahan dunia mana. Namun suatu saat akan saya cari dan ikat dengan tulisan. "al-Ilmu Shoidun, wa Al-Kitabatu Qoiduhu". Lalu apakah anda kini berminat menjadi penulis?
Itulah. Penulis adalah orang yang selalu menulis, di mana pun. Apa yang dipikirkan dan dilihatnya mewujud kata-kata. Penulis sebenarnya lebih banyak memiliki pasar dalam pikirannya dibanding siapapun. Kadang ia tak sempat untuk terlalu banyak bicara dan sibuk berdebat dengan pikiran dan penanya.
Bagiku, penulis adalah pemikir sekaligus. Sebab tiap hurup tulisan adalah gagasan yang lahir hanya dari pikiran. Dinamika dan pergulatan yang menarik. Segala yang dicerap dikunyah hingga lebur, ditelan, lalu diendapkan menjadi energi dan dikeluarkannya dalam sebentuk karya.
Nyaris tiap orang merasa dirinya ingin menjadi penulis. Tetapi seringkali sulit. Memang banyak kasus menunjukkan kenyataan itu. Anda jugakah? Dalam pandanganku itu disebabkan beberapa hal;
Pertama, kita menulis karena itu sakit hati atau sedang jatuh cinta. itu pun sebatas puisi dan coretan-coretan serabutan yang tak tentu bentuknya.
Kedua, kita selalu ingin tulisan kita dibaca orang. Kita tidak pernah membayangkan ada orang yang menulis hanya untuk disimpan seumur hidup dan tak mau dibaca orang. Bagaimana dengan diary? pada akhirnya tentu ingin dibaca dan dikenang bukan?
Ketiga, kita menulis ketika ada mood. Itu yang sering saya rasakan. Sepertinya modal kita menulis bukan keinginan dan wawasan, tapi mood. Kalau begitu berdoalah agar mood itu selalu menaungi kita. ironis bukan?
Bagi anda yang berminat menjadi penulis saya punya trik yang sudah dicoba dan ternyata sangat manjur. Banyak orang menjadi penulis karena mempraktikkan tiga trik ini. Berikut triknya:
Langkah pertama adalah Menulislah!
Langkah kedua yaitu Menulislah!
Langkah terakhir adalah Menulislah!
Nah, tiga langkah itu yang akan menjadikan anda seorang penulis hebat! Percayalah!
Jika anda tak punya gambaran awal tentang apa itu dunia menulis, berikut beberapa kisah para penulis hebat:
1. Al-Ghazali, seorang Imam besar, Rektor Al-Azhar pertama (ketika itu masih bernama Univ. Nidzam al_Mulk) mendedikasikan dirinya untuk agama, ilmu, Sufistik, dan dunia kepenulisan. Ratusan kitab ia karang. Dia boleh mati. Dan kita tahu itu. Tetapi ia hidup hingga kini sebab karya-karyanya menjadi masterpiece dan rujukan utama bagi para ilmuwan dan bahkan kalangan pesantren di mana pun.
2. Suhrawardi, Filosof yang terbilang muda. Ia adalah ilmuwan muslim progresif. Di usia 38 tahun ketika ia wafat diracun penguasa yang berang dengan tulisannya, ia telah mengarang tidak kurang dari 38 Kitab-kitab penting. Ada banyak ilmuwan dan filosof muslim sekaligus mereka adalah penulis, seperti: Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Tufail, dll. Ibn Tufail adalah orang yang mengarang kitab "Hay Bin Yaqdzan" yang di kemudian hari menjadi inspirasi bagi lahirnya film legendaris "Tarzan".
3. Imam Muslim, penulis Hadits dan Ahli Hadits. Ia bersama legenda Hadits terkenal lainnya, salah satunya Imam Bukhari, adalah penulis hadits paling produktif. Hidupnya penuh didedikasikan untuk ilmu dan menulis. Setiap ia hendak menulis sebuah hadits, shalatlah ia dua rakaat dan memohon pertolongan dan perlindungan Allah, agar apa yang ditulisnya adalah benar dan bermanfaat. Terus saja begitu. Hingga ribuan hadits terkumpul dengan rapi dalam masterpiece nya.
4. Pramoedya Ananta Toer, tokoh Nasional dalam bidang sastra, dia mendapat penghargaan sebagai sastrawan Asia dan diakui kehebatan karya-karyanya. Hidupnya banyak dihabiskan di penjara sebab kritikan dan sebagian tulisan-tulisannya yang menukik dan menusuk penguasa. Apa yang ia dongengkan saban hari kepada rekan-rekannya di penjara kemudian ia tulis menjadi banyak buku Novel. Tetralogi Ananta Toer atau Tetralogi Pulau Buru adalah karya agung dan Novel Legendaris yang hingga hari ini belum dapat tergantikan oleh karangan yang lain.
Itu sementara beberapa gambaran tentang penulis. Ada banyak hal yang ingin saya tulis. Tetapi rupanya jari-jari saya tak mampu mengejar lompatan-lompatan ide-ide saya yang lahir terlalu cepat dan lari entah ke belahan dunia mana. Namun suatu saat akan saya cari dan ikat dengan tulisan. "al-Ilmu Shoidun, wa Al-Kitabatu Qoiduhu". Lalu apakah anda kini berminat menjadi penulis?
Jumat, 27 Agustus 2010
SERVICE MESIN (PUISI)
Siang ini aku tak mau berpuisi. Aku lelah. Tiba-tiba saja aku jenuh merangkai kata yang rumit dan kadang tak ku pahami makna utuhnya.
Semenjak aku lama tak menulis artikel, aku seperti tubuh tanpa tulang, lemas lunglai. Puisi saja, kadang, membuatku lemah.
Jujur, menurutku sendiri, puisiku masih berantakan. Ternyata benar apa yang dikatakan ke Faaizi, menulis puisi sama susahnya seperti mengarang sebuah Novel atau bahkan membangun rumah. Apa yang menurut kita bagus ternyata kering makna; Sesuatu yang kita paksakan makna termuat di dalamnya ternyata tidak dapat ditampilkan dengan bahasa yang baik dalam bentuk puisi. Ada dilema antara Makna dengan kata. Seseorang yang mahir berpuisi mampu mengompromikan keduanya menjadi serasi melebihi suami istri. Sementara bagi pemula sepertiku, sulitnya minta ampun. Selalu saja perkelahian yang terjadi; selalu saling mengalahkan. Ya, itulah proses, barangkali.
Sementara aku berjalan sendiri dan tanpa ada yang bicara kanan kiri. Puisiku tak berbengkel apalagi onderdil dan jasa servis seperti kebanyakan puisi para seniman lain.
Sampai detik ini aku menulis puisi sebab aku masih yakin, masih banyak yang belum aku gali, masih banyak yang belum terungkapkan melalui bahasa sunyi, padahal hidup mesti selalu kita syukuri.
Lewat puisi, ekspresi menjadi begitu luas, dunia begitu lebar. Dan aku bisa menjadi diriku sendiri. Sesekali aku numpang gila dan melupakan segala hidup di gubuk kata-kata. Di situlah aku temukan sejenak ketenangan.
Ah sudahlah..
Aku maknai perjalanan ini sebagai sebuah fase dari rangkaian perjalanan. Dulu artikel, kini puisi, lalu apalagi?!?!?!?
Semenjak aku lama tak menulis artikel, aku seperti tubuh tanpa tulang, lemas lunglai. Puisi saja, kadang, membuatku lemah.
Jujur, menurutku sendiri, puisiku masih berantakan. Ternyata benar apa yang dikatakan ke Faaizi, menulis puisi sama susahnya seperti mengarang sebuah Novel atau bahkan membangun rumah. Apa yang menurut kita bagus ternyata kering makna; Sesuatu yang kita paksakan makna termuat di dalamnya ternyata tidak dapat ditampilkan dengan bahasa yang baik dalam bentuk puisi. Ada dilema antara Makna dengan kata. Seseorang yang mahir berpuisi mampu mengompromikan keduanya menjadi serasi melebihi suami istri. Sementara bagi pemula sepertiku, sulitnya minta ampun. Selalu saja perkelahian yang terjadi; selalu saling mengalahkan. Ya, itulah proses, barangkali.
Sementara aku berjalan sendiri dan tanpa ada yang bicara kanan kiri. Puisiku tak berbengkel apalagi onderdil dan jasa servis seperti kebanyakan puisi para seniman lain.
Sampai detik ini aku menulis puisi sebab aku masih yakin, masih banyak yang belum aku gali, masih banyak yang belum terungkapkan melalui bahasa sunyi, padahal hidup mesti selalu kita syukuri.
Lewat puisi, ekspresi menjadi begitu luas, dunia begitu lebar. Dan aku bisa menjadi diriku sendiri. Sesekali aku numpang gila dan melupakan segala hidup di gubuk kata-kata. Di situlah aku temukan sejenak ketenangan.
Ah sudahlah..
Aku maknai perjalanan ini sebagai sebuah fase dari rangkaian perjalanan. Dulu artikel, kini puisi, lalu apalagi?!?!?!?
Minggu, 23 Mei 2010
SMS-an dengan Asep
(Tulisan ini kenangan tak terlupakan dengan seorang Karib[Tabri SM])
06 Desember 2009.
Jenuh, itulah yang malam ini ku alami, malam yang senyap sangat terasa bagiku setelah mencoba untuk menghindari teman-temanku yang telah terjebak pada kondisi keterikatan mereka terhadap gegap gembita politk. Melihat kondisi yang bisa-bisa membunuh otakku, ku coba meraih ponselku, ku sms sahabtku, sahabat yang selalu berbagi cerita, berbagi ceria, dan berbagi duka.
Ku mulai menanyakan temanku dengan mengetik "adakah kesibukan yang menghalangi tuk sekedar berbagi cerita denganku malam ini? Ku lagi sepi dalam anganku sendiri" ku kirim pada temanku asep, malam ini ingin berbagi cerita dan kegundahanku pada asep.
Setelah menunggu beberapa menit, ponselku berdering, dan sungguh asep membalas sms ku dengan kata-kata yang mampu menghiburku " Tak usah kau terlalu risau, ketika masih bercumbu dan berpagutan dalam cawan angan masa depan".
Ku balas sms asep dengan perasaan bahwa malam ini aku tidak kesepian untuk berbagi cerita atas kegundahan otakku "Yah itulah kabar yang ingin ku dengar, sungguh menawan membicarakan masa depan yang terkadang suram".
Entah kanapa sms ku berlajut dengan balasan yang juga mulai memberikan pencerahan terhadap pikiranku yang tersedak "sebenarnya selama ini kita hidup di bawah bayang-bayang masa depan, kadang kita takut, brani, pesimis, lelah, tidur, menangis, tertawa, ramai, sunyi, bersama, sendiri"
Unuk selanjutnya berikut rekaman sms ku degan asep (T : tabri, A: Asep)
T: Alah…. Ku ingin benar-benar gila.
A. Tak biasanya kau begitu bernafsu menikmati --- kata nietczhe—kegilaan sesaat?
T. ah… sendiri tak berarti sepi.
A. Hakikat hidup memang sendiri, kita harus belajar menikamatinya.
T. Arif benar kau malam ini, lalu bagaimana ku mau berbagi selembar roti dan secawan madu dengan mu?
A. itu madu dan rotimu, bukan untukku, ku masih punya seteguk kopi di samudera hatiku.
T. Aih… cafein kau cadangkan tuk membangkitkan pembuluh otak, bersulanglah denganku meski hanya dengan 1 sloki anggur, ku punya anggur sisa dari peradaban evanesce.
A. Tidak kawan, anggur mengingatkanku pada bidadari tadi malam.
T. Ah, kau ternyata berselingkuh. Tuk memastikan dirimu laki-laki ku salut padamu. Dari kahyangan manakah bidadari itu hingga kau melupakan sloki dialtar tempat kita bercengkrama?
A. ku tak melupakannya, ia adalah separuh diriku yang tak terjamah. aku rindu dia sekaligus benci. Hantu-hantu malam meneriaku dengan nafsu saat ini.
T. Duh, sungguh indah nian ceritamu, ku ingin masuk peradaban dengan nyanyian-nyanyian yang didendangkan rumi pada kekasihnya, tapi ku terhalang oleh dzikir rabiah, maukah kau menuntunku menuju gurun Sinai? Ku ingin menari di panasnya sahara.
A. Aku lampirkan saja kau lewat email yang hendak ku kirim ke musa malam ini, bagaimana?
T. Sudahlah, ku tahu musa, musa hanya mampu membawa para yahudi keperbatasan Sinai, meski berhasil menyeberangi lautan, mereka tetap tak bertanah air. Sama denganku
A. bukankah aku juga tak berumah?. Akal dan hatiku yang ku anggap rumah untuk berteduh kadang kini ku sangsikan.
T. kau beruntung beridentitas, tidaklah senaif diriku yang gelandangan, kau mampu berfikir meski terbatas, tapi kau punya kuasa pada dirimu, itulah yang ku tak punya.
A. sebenarnya tak ada orang yang betul-betul berkuasa pada dirinya, makanya kadang masih butuh tuhan untuk mengurus nasibku.
T. Tuhan yang mana yang kau impikan? Ketika zaman berputar orang beralih, kenapa harta tuhan, kenapa uang tuhan, kenapa kekuasaan tuhan, perempuanku terkadang menjadi rasulnya, juga temanku.
A. salahkah aku jika aku bertuhan dengan caraku sendir?
T. siapa yang mau menyalahkan kecuali undang-undang Negara, MUI, Kyai, Pendeta, dan Polisi.
A. Kecuali kau juga politisi.
T. Ah naïf benar ku membela diri ketika aktifitasku menjadi agenda politik yang sempit oleh orang yang mengimpikan kekuasaan, sudahlah ku nyata ku ingin berteman saja tidak lebih, ku punya rasa bertahan di dunia cela karena berebut kuasa.
A. Kau keliru menilaiku, aku tidak pernah punya sehelai rambutpun untuk ku jual di pasar politik, lalu bagaimana aku menyesaki pikiranku dengan kebohongan politik?
T itulah prasangka yang sama-sama kita hadapi, naiflah orang ketika mendapati duiaku sebagai dunia rebutan kuasa, karena ku masih punya adam yang terusir dari surga, ku merencanakan hidupku tidak atas nama kekuasaan, tapi kemadirian.
06 Desember 2009.
Jenuh, itulah yang malam ini ku alami, malam yang senyap sangat terasa bagiku setelah mencoba untuk menghindari teman-temanku yang telah terjebak pada kondisi keterikatan mereka terhadap gegap gembita politk. Melihat kondisi yang bisa-bisa membunuh otakku, ku coba meraih ponselku, ku sms sahabtku, sahabat yang selalu berbagi cerita, berbagi ceria, dan berbagi duka.
Ku mulai menanyakan temanku dengan mengetik "adakah kesibukan yang menghalangi tuk sekedar berbagi cerita denganku malam ini? Ku lagi sepi dalam anganku sendiri" ku kirim pada temanku asep, malam ini ingin berbagi cerita dan kegundahanku pada asep.
Setelah menunggu beberapa menit, ponselku berdering, dan sungguh asep membalas sms ku dengan kata-kata yang mampu menghiburku " Tak usah kau terlalu risau, ketika masih bercumbu dan berpagutan dalam cawan angan masa depan".
Ku balas sms asep dengan perasaan bahwa malam ini aku tidak kesepian untuk berbagi cerita atas kegundahan otakku "Yah itulah kabar yang ingin ku dengar, sungguh menawan membicarakan masa depan yang terkadang suram".
Entah kanapa sms ku berlajut dengan balasan yang juga mulai memberikan pencerahan terhadap pikiranku yang tersedak "sebenarnya selama ini kita hidup di bawah bayang-bayang masa depan, kadang kita takut, brani, pesimis, lelah, tidur, menangis, tertawa, ramai, sunyi, bersama, sendiri"
Unuk selanjutnya berikut rekaman sms ku degan asep (T : tabri, A: Asep)
T: Alah…. Ku ingin benar-benar gila.
A. Tak biasanya kau begitu bernafsu menikmati --- kata nietczhe—kegilaan sesaat?
T. ah… sendiri tak berarti sepi.
A. Hakikat hidup memang sendiri, kita harus belajar menikamatinya.
T. Arif benar kau malam ini, lalu bagaimana ku mau berbagi selembar roti dan secawan madu dengan mu?
A. itu madu dan rotimu, bukan untukku, ku masih punya seteguk kopi di samudera hatiku.
T. Aih… cafein kau cadangkan tuk membangkitkan pembuluh otak, bersulanglah denganku meski hanya dengan 1 sloki anggur, ku punya anggur sisa dari peradaban evanesce.
A. Tidak kawan, anggur mengingatkanku pada bidadari tadi malam.
T. Ah, kau ternyata berselingkuh. Tuk memastikan dirimu laki-laki ku salut padamu. Dari kahyangan manakah bidadari itu hingga kau melupakan sloki dialtar tempat kita bercengkrama?
A. ku tak melupakannya, ia adalah separuh diriku yang tak terjamah. aku rindu dia sekaligus benci. Hantu-hantu malam meneriaku dengan nafsu saat ini.
T. Duh, sungguh indah nian ceritamu, ku ingin masuk peradaban dengan nyanyian-nyanyian yang didendangkan rumi pada kekasihnya, tapi ku terhalang oleh dzikir rabiah, maukah kau menuntunku menuju gurun Sinai? Ku ingin menari di panasnya sahara.
A. Aku lampirkan saja kau lewat email yang hendak ku kirim ke musa malam ini, bagaimana?
T. Sudahlah, ku tahu musa, musa hanya mampu membawa para yahudi keperbatasan Sinai, meski berhasil menyeberangi lautan, mereka tetap tak bertanah air. Sama denganku
A. bukankah aku juga tak berumah?. Akal dan hatiku yang ku anggap rumah untuk berteduh kadang kini ku sangsikan.
T. kau beruntung beridentitas, tidaklah senaif diriku yang gelandangan, kau mampu berfikir meski terbatas, tapi kau punya kuasa pada dirimu, itulah yang ku tak punya.
A. sebenarnya tak ada orang yang betul-betul berkuasa pada dirinya, makanya kadang masih butuh tuhan untuk mengurus nasibku.
T. Tuhan yang mana yang kau impikan? Ketika zaman berputar orang beralih, kenapa harta tuhan, kenapa uang tuhan, kenapa kekuasaan tuhan, perempuanku terkadang menjadi rasulnya, juga temanku.
A. salahkah aku jika aku bertuhan dengan caraku sendir?
T. siapa yang mau menyalahkan kecuali undang-undang Negara, MUI, Kyai, Pendeta, dan Polisi.
A. Kecuali kau juga politisi.
T. Ah naïf benar ku membela diri ketika aktifitasku menjadi agenda politik yang sempit oleh orang yang mengimpikan kekuasaan, sudahlah ku nyata ku ingin berteman saja tidak lebih, ku punya rasa bertahan di dunia cela karena berebut kuasa.
A. Kau keliru menilaiku, aku tidak pernah punya sehelai rambutpun untuk ku jual di pasar politik, lalu bagaimana aku menyesaki pikiranku dengan kebohongan politik?
T itulah prasangka yang sama-sama kita hadapi, naiflah orang ketika mendapati duiaku sebagai dunia rebutan kuasa, karena ku masih punya adam yang terusir dari surga, ku merencanakan hidupku tidak atas nama kekuasaan, tapi kemadirian.
LAKI-LAKI ITU BUNDA!
SAYA TAMPILKAN CERPEN TAMAMAH SEKEDAR MENGHARGAI KESEMANGATANNYA UNTUK TERUS BERKARYA
Untuk Bunda 16 November 2008
Assalamualaikum Bunda…….
Sebelum semua terbaca, Zha minta maaf karena mungkin ketika Bunda menemukan surat Zha, Zha sudah pergi jauh dari pangkuan hangat Bunda yang sebenarnya tak pernah ingin Zha tinggalkan, mungkin juga Bunda berfikir bahwa Zha bukanlah anak yang bisa Bunda jadikan permata, seperti apa yang Bunda mimpikan selama ini, tapi Bunda, demi Tuhan Zha tidak pernah berniat untuk meninggalkan Bunda sendirian menghadapi segala hal yang Bunda tak pernah ketahui sebelumnya bahkan Zha sendiri belum fahami sepenuhnya, tapi Zha yakin Bunda, bahwa keputusan yang Zha ambil akan menjadi yang terbaik bagi kita semua karena ini juga demi kebahagiaan Bunda, orang yang Zha sangat sayangi melebihi siapapun, bahkan laki-laki itu Bunda!Laki-laki yang saat ini akan mendampingi bunda di pelaminan. Bunda tidak usah memikirkan keadaan Zha, karena di sini, tempat Zha menenangkan diri, Zha akan baik-baik saja Sekali lagi, Zha sangat menyayangi Bunda, maafkan Zha Bunda. Suatu saat nanti InsyaAllah Zha akan kembali jika hati ini telah terobati.
Wassalam………..
Zha harus benar-benar pergi Bunda!.
* * *
. “ Pagi Bunda………, Zha berangkat sekolah dulu ya ”
“ Zha, kebiasaan nih, sarapan dulu dong, Bunda udah siapin nasi goreg lho!”
“ Aduh Bunda, bukannya Zha nggak mau serapan tapi udah telat! Besok aja ya Bunda kita serapan bareng” aku segera mengambil tangan Bunda lalu menciumnya dan segera berlari keluar rumah..
“ Duh tuh anak, udah gede juga masih aja suka bangun telat, hati-hati di jalan Zha!!!!”
“ Ia bunda, Zha berangkat dulu ya……Assalamualaikum!.” Teriakku sambil terus berlari kearah jalan raya untuk menunggu angkot yang bisa membawaku segera sampai di sekolah.
“Walaikum salam…” lamat-lamat masih ku dengar Bunda menjawab salamku yang bisa dibilang sangat tidak sopan ini.Setiap pagi, setiap bangun tidur aku selalu mempunyai semangat baru untuk menjalani hari-hariku, hari-hari di mana aku bisa menikmati setiap degup yang semakin bertabuh kencang saat laki-laki itu menyapaku dengan senyum dan anggukan rumahnya.Ah, Bunda andai kau tahu bahwa anakmu telah jatuh cinta. Ya……..jatuh cinta pada laki-laki-laki bermata samudra yang telah berhasil menenggelamkan anak bunda semata wayang, anak bunda yang kemarin masih berada di pangkuan bunda, menanti tetesan ASI menetesi tenggorokan. Dan, pagi ini seperti biasa, aku sedang duduk sendiri di bawah pohon depan sekolah, menanti ia lewat yang pasti akan ada senyum dan anggukan ramah yang akan ia persembahkan untukku. Ya tinggal hitungan detik, yup! Satu…dua……..tiga………em………..pat!! itu dia sudah muncul di pintu gerbang, dan…….nah iti dia senyum dan…eh, lho…lho, dia kok berjalan kearahku? Apa hanya perasaan aku saja? Tapi………..
“ Pagi Zha……..!”
“ Pa…pagi Pak…………” Tuhan, aroma tubuhnya! Baru kali ini aku bisa duduk sedekat ini dengan laki-laki ini, laki-laki yang sebenarnya adalah guru bahasa indonesiaku sendiri
“ Bapak ganggu nggak kalo duduk di sini?”
“ nggak kok Pak, ngak apa-apa” jangankan Cuma duduk pak, tiduran juga boleh, ujarku dalam hati. He he nakal ya!
“Bapak lihat sepertinya ini tempat favorit kamu ya?”
“ kok Bapak bisa bilang seperti itu?’
“ Karena Bapak bisa lihat kamu setiap pagi di tempat ini, duduk sendirian lagi! apa kamu memang suka menyendiri?” Duh, senengnya, ternyata Bapak perhatian juga nih sama Zha!
“ Suka menyendiri sih nggak pak, Cuma kalo pas pagi-pagi gini temen-temen kan pada sibuk sama kegiatannya masing-masing tuh, ada yang piket, trus ada juga yang langsung ke kantin karena nggak sempat serapan di rumah.”
“ O. gitu! Nah trus apa yang kamu kerjakan di sini setiap pagi?” Nungguin Bapak! Jawabku (tapi dalam hati lho…..)
“ Nggak ada tuh pak, cuma suka aja duduk di sini”
“ Tapi kamu nggak lagi ada masalah sama temen kamu kan?”
“ Nggak kok Pak.”
“ Bener?”
“ Bener, serius malah.”
“ Bagus kalo begitu. Bapak hanya hawatir mungkin kamu sedang ada masalah dengan teman-teman kamu. Ya udah kalo gitu Bapak ke kantor dulu ya……..”
“ Ia Pak silahkan, makasih ya Pak udah perhatian sama Zha” Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berlalu meninggalkan aku yang masih sibuk menata hati yang baru saja terbang ke nirwana, mana pakek bunga-bunga lagi!
* * *
Sejak saat itu, laki-laki itu semakin sering menghampiriku di bawah pohon tempat biasa aku menunggunya. Hingga kemudian tanpa aku sadari rasa di hatiku semakin menjadi,degup itu semakin kencang ketika ia berada di dekatku, hingga kemudian aku berusaha mencari tahu, apakah rasa ini ia juga merasakannya.
Pagi ini, di hari minggu, dia pergi kerumahku untuk pertama kali. Ku kenalkan ia pada Bunda. Ingin sebenarnya aku ingin mengenalkanya pada Bunda bukan hanya sekedar sebagai guru namun sebagai menantu, namun perasaannya padaku saja aku tak tahu! Sambutan Bunda sangat ramah padanya , mungkin karena dia guruku. Karena sebenarnya Bunda paling tidak suka ada teman cowokku bermain ke rumah, kata Bunda tidak baik untuk gadis seusiaku menerima tamu laki-laki, apa kata tetangga nanti!. Begitulah bunda, dia sangat menjaga kehormatan keluarganya.
Sebenarnya Bunda adalah orang tua tunggalku, Ayah meninggal karena kecelakaan sewaktu aku masih balita, hingga saat ini Bunda belum mau menikah lagi, padahal aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat bahagia jika Bunda mau mencari pengganti Ayah, namun dia tetap pada pendiriannya. Jika aku paksa dia akan menjawab“ Bunda belum menemukan yang sebaik ayah Zha.”
* * *
Suatu pagi di hari minggu, katika kami sedang serapan.
“ Zha, tadi gurumu itu telfon, dia nanyain kamu, tapi kamu lagi di kamar mandi”
“ Kok nggak di suruh nunggu bentar aja sih Bunda” nadaku sedikit bernada protes pada Bunda, karena ini sudah yang kesekian kalinya laki-laki itu menelponku tapi hanya satu kali dia bicara langsung denganku.
“ Dia tadi bilang nggak usah pas Bunda bilang Bunda mau panggil Zha”
“ Masak ia sih?” Aku masih belum bisa menerima alasan Bunda, karena aku bisa menangkap sesuatu yang sedikit berbeda dari raut Bunda. Sesuatu yang selama ini tak pernah tergambar pada wajahnya, ku lihat ada binar kebahagiaan di sana.
“ Ia, bener, masak Zha nggak percaya sama Bunda sih!” sepertinya Bunda mulai tidak enak dengan sikapku. Ahirnya aku hanya memilih diam saja.
* * *
16 November 2008
Hingga kemudian semua rasa yang mengganjal di hatiku telah terjawab, Bunda hari ini akan menikah dengan laki-laki itu. Ya, laki-laki yang selama ini aku tunggu senyumnya di bawah pohon depan sekolah, laki-laki yang pernah aku hayalkan aku perkenalkan pada Bunda sebagai calon menantu, laki-laki yang selalu membuatku penuh inspirasi baru untuk menghadapi hidup baru ketika bangun tidur dan laki-laki yang…….ah, terlalu banyak hal yang telah aku harapkan bisa aku lakukan bersamanya.
Laki-laki yang kemudian membuatku harus memilih, memilih untuk melepaskan segalanya, laki-laki yang kemudian membuatku harus memilih untuk meninggalkan Bunda, karena rasa ini telah benar-benar nyata. Laki-laki yang mulai detik ini membuatku harus belajar untuk memulai segalanya dari awal kembali, laki-laki yang telah memaksaku untuk menulis cerita ini. Terimakasih laki-laki……!
Untuk Bunda 16 November 2008
Assalamualaikum Bunda…….
Sebelum semua terbaca, Zha minta maaf karena mungkin ketika Bunda menemukan surat Zha, Zha sudah pergi jauh dari pangkuan hangat Bunda yang sebenarnya tak pernah ingin Zha tinggalkan, mungkin juga Bunda berfikir bahwa Zha bukanlah anak yang bisa Bunda jadikan permata, seperti apa yang Bunda mimpikan selama ini, tapi Bunda, demi Tuhan Zha tidak pernah berniat untuk meninggalkan Bunda sendirian menghadapi segala hal yang Bunda tak pernah ketahui sebelumnya bahkan Zha sendiri belum fahami sepenuhnya, tapi Zha yakin Bunda, bahwa keputusan yang Zha ambil akan menjadi yang terbaik bagi kita semua karena ini juga demi kebahagiaan Bunda, orang yang Zha sangat sayangi melebihi siapapun, bahkan laki-laki itu Bunda!Laki-laki yang saat ini akan mendampingi bunda di pelaminan. Bunda tidak usah memikirkan keadaan Zha, karena di sini, tempat Zha menenangkan diri, Zha akan baik-baik saja Sekali lagi, Zha sangat menyayangi Bunda, maafkan Zha Bunda. Suatu saat nanti InsyaAllah Zha akan kembali jika hati ini telah terobati.
Wassalam………..
Zha harus benar-benar pergi Bunda!.
* * *
. “ Pagi Bunda………, Zha berangkat sekolah dulu ya ”
“ Zha, kebiasaan nih, sarapan dulu dong, Bunda udah siapin nasi goreg lho!”
“ Aduh Bunda, bukannya Zha nggak mau serapan tapi udah telat! Besok aja ya Bunda kita serapan bareng” aku segera mengambil tangan Bunda lalu menciumnya dan segera berlari keluar rumah..
“ Duh tuh anak, udah gede juga masih aja suka bangun telat, hati-hati di jalan Zha!!!!”
“ Ia bunda, Zha berangkat dulu ya……Assalamualaikum!.” Teriakku sambil terus berlari kearah jalan raya untuk menunggu angkot yang bisa membawaku segera sampai di sekolah.
“Walaikum salam…” lamat-lamat masih ku dengar Bunda menjawab salamku yang bisa dibilang sangat tidak sopan ini.Setiap pagi, setiap bangun tidur aku selalu mempunyai semangat baru untuk menjalani hari-hariku, hari-hari di mana aku bisa menikmati setiap degup yang semakin bertabuh kencang saat laki-laki itu menyapaku dengan senyum dan anggukan rumahnya.Ah, Bunda andai kau tahu bahwa anakmu telah jatuh cinta. Ya……..jatuh cinta pada laki-laki-laki bermata samudra yang telah berhasil menenggelamkan anak bunda semata wayang, anak bunda yang kemarin masih berada di pangkuan bunda, menanti tetesan ASI menetesi tenggorokan. Dan, pagi ini seperti biasa, aku sedang duduk sendiri di bawah pohon depan sekolah, menanti ia lewat yang pasti akan ada senyum dan anggukan ramah yang akan ia persembahkan untukku. Ya tinggal hitungan detik, yup! Satu…dua……..tiga………em………..pat!! itu dia sudah muncul di pintu gerbang, dan…….nah iti dia senyum dan…eh, lho…lho, dia kok berjalan kearahku? Apa hanya perasaan aku saja? Tapi………..
“ Pagi Zha……..!”
“ Pa…pagi Pak…………” Tuhan, aroma tubuhnya! Baru kali ini aku bisa duduk sedekat ini dengan laki-laki ini, laki-laki yang sebenarnya adalah guru bahasa indonesiaku sendiri
“ Bapak ganggu nggak kalo duduk di sini?”
“ nggak kok Pak, ngak apa-apa” jangankan Cuma duduk pak, tiduran juga boleh, ujarku dalam hati. He he nakal ya!
“Bapak lihat sepertinya ini tempat favorit kamu ya?”
“ kok Bapak bisa bilang seperti itu?’
“ Karena Bapak bisa lihat kamu setiap pagi di tempat ini, duduk sendirian lagi! apa kamu memang suka menyendiri?” Duh, senengnya, ternyata Bapak perhatian juga nih sama Zha!
“ Suka menyendiri sih nggak pak, Cuma kalo pas pagi-pagi gini temen-temen kan pada sibuk sama kegiatannya masing-masing tuh, ada yang piket, trus ada juga yang langsung ke kantin karena nggak sempat serapan di rumah.”
“ O. gitu! Nah trus apa yang kamu kerjakan di sini setiap pagi?” Nungguin Bapak! Jawabku (tapi dalam hati lho…..)
“ Nggak ada tuh pak, cuma suka aja duduk di sini”
“ Tapi kamu nggak lagi ada masalah sama temen kamu kan?”
“ Nggak kok Pak.”
“ Bener?”
“ Bener, serius malah.”
“ Bagus kalo begitu. Bapak hanya hawatir mungkin kamu sedang ada masalah dengan teman-teman kamu. Ya udah kalo gitu Bapak ke kantor dulu ya……..”
“ Ia Pak silahkan, makasih ya Pak udah perhatian sama Zha” Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berlalu meninggalkan aku yang masih sibuk menata hati yang baru saja terbang ke nirwana, mana pakek bunga-bunga lagi!
* * *
Sejak saat itu, laki-laki itu semakin sering menghampiriku di bawah pohon tempat biasa aku menunggunya. Hingga kemudian tanpa aku sadari rasa di hatiku semakin menjadi,degup itu semakin kencang ketika ia berada di dekatku, hingga kemudian aku berusaha mencari tahu, apakah rasa ini ia juga merasakannya.
Pagi ini, di hari minggu, dia pergi kerumahku untuk pertama kali. Ku kenalkan ia pada Bunda. Ingin sebenarnya aku ingin mengenalkanya pada Bunda bukan hanya sekedar sebagai guru namun sebagai menantu, namun perasaannya padaku saja aku tak tahu! Sambutan Bunda sangat ramah padanya , mungkin karena dia guruku. Karena sebenarnya Bunda paling tidak suka ada teman cowokku bermain ke rumah, kata Bunda tidak baik untuk gadis seusiaku menerima tamu laki-laki, apa kata tetangga nanti!. Begitulah bunda, dia sangat menjaga kehormatan keluarganya.
Sebenarnya Bunda adalah orang tua tunggalku, Ayah meninggal karena kecelakaan sewaktu aku masih balita, hingga saat ini Bunda belum mau menikah lagi, padahal aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat bahagia jika Bunda mau mencari pengganti Ayah, namun dia tetap pada pendiriannya. Jika aku paksa dia akan menjawab“ Bunda belum menemukan yang sebaik ayah Zha.”
* * *
Suatu pagi di hari minggu, katika kami sedang serapan.
“ Zha, tadi gurumu itu telfon, dia nanyain kamu, tapi kamu lagi di kamar mandi”
“ Kok nggak di suruh nunggu bentar aja sih Bunda” nadaku sedikit bernada protes pada Bunda, karena ini sudah yang kesekian kalinya laki-laki itu menelponku tapi hanya satu kali dia bicara langsung denganku.
“ Dia tadi bilang nggak usah pas Bunda bilang Bunda mau panggil Zha”
“ Masak ia sih?” Aku masih belum bisa menerima alasan Bunda, karena aku bisa menangkap sesuatu yang sedikit berbeda dari raut Bunda. Sesuatu yang selama ini tak pernah tergambar pada wajahnya, ku lihat ada binar kebahagiaan di sana.
“ Ia, bener, masak Zha nggak percaya sama Bunda sih!” sepertinya Bunda mulai tidak enak dengan sikapku. Ahirnya aku hanya memilih diam saja.
* * *
16 November 2008
Hingga kemudian semua rasa yang mengganjal di hatiku telah terjawab, Bunda hari ini akan menikah dengan laki-laki itu. Ya, laki-laki yang selama ini aku tunggu senyumnya di bawah pohon depan sekolah, laki-laki yang pernah aku hayalkan aku perkenalkan pada Bunda sebagai calon menantu, laki-laki yang selalu membuatku penuh inspirasi baru untuk menghadapi hidup baru ketika bangun tidur dan laki-laki yang…….ah, terlalu banyak hal yang telah aku harapkan bisa aku lakukan bersamanya.
Laki-laki yang kemudian membuatku harus memilih, memilih untuk melepaskan segalanya, laki-laki yang kemudian membuatku harus memilih untuk meninggalkan Bunda, karena rasa ini telah benar-benar nyata. Laki-laki yang mulai detik ini membuatku harus belajar untuk memulai segalanya dari awal kembali, laki-laki yang telah memaksaku untuk menulis cerita ini. Terimakasih laki-laki……!
Langganan:
Komentar (Atom)