Minggu, 23 Mei 2010

LAKI-LAKI ITU BUNDA!

SAYA TAMPILKAN CERPEN TAMAMAH SEKEDAR MENGHARGAI KESEMANGATANNYA UNTUK TERUS BERKARYA

Untuk Bunda 16 November 2008
Assalamualaikum Bunda…….
Sebelum semua terbaca, Zha minta maaf karena mungkin ketika Bunda menemukan surat Zha, Zha sudah pergi jauh dari pangkuan hangat Bunda yang sebenarnya tak pernah ingin Zha tinggalkan, mungkin juga Bunda berfikir bahwa Zha bukanlah anak yang bisa Bunda jadikan permata, seperti apa yang Bunda mimpikan selama ini, tapi Bunda, demi Tuhan Zha tidak pernah berniat untuk meninggalkan Bunda sendirian menghadapi segala hal yang Bunda tak pernah ketahui sebelumnya bahkan Zha sendiri belum fahami sepenuhnya, tapi Zha yakin Bunda, bahwa keputusan yang Zha ambil akan menjadi yang terbaik bagi kita semua karena ini juga demi kebahagiaan Bunda, orang yang Zha sangat sayangi melebihi siapapun, bahkan laki-laki itu Bunda!Laki-laki yang saat ini akan mendampingi bunda di pelaminan. Bunda tidak usah memikirkan keadaan Zha, karena di sini, tempat Zha menenangkan diri, Zha akan baik-baik saja Sekali lagi, Zha sangat menyayangi Bunda, maafkan Zha Bunda. Suatu saat nanti InsyaAllah Zha akan kembali jika hati ini telah terobati.
Wassalam………..
Zha harus benar-benar pergi Bunda!.
* * *
. “ Pagi Bunda………, Zha berangkat sekolah dulu ya ”
“ Zha, kebiasaan nih, sarapan dulu dong, Bunda udah siapin nasi goreg lho!”
“ Aduh Bunda, bukannya Zha nggak mau serapan tapi udah telat! Besok aja ya Bunda kita serapan bareng” aku segera mengambil tangan Bunda lalu menciumnya dan segera berlari keluar rumah..
“ Duh tuh anak, udah gede juga masih aja suka bangun telat, hati-hati di jalan Zha!!!!”
“ Ia bunda, Zha berangkat dulu ya……Assalamualaikum!.” Teriakku sambil terus berlari kearah jalan raya untuk menunggu angkot yang bisa membawaku segera sampai di sekolah.
“Walaikum salam…” lamat-lamat masih ku dengar Bunda menjawab salamku yang bisa dibilang sangat tidak sopan ini.Setiap pagi, setiap bangun tidur aku selalu mempunyai semangat baru untuk menjalani hari-hariku, hari-hari di mana aku bisa menikmati setiap degup yang semakin bertabuh kencang saat laki-laki itu menyapaku dengan senyum dan anggukan rumahnya.Ah, Bunda andai kau tahu bahwa anakmu telah jatuh cinta. Ya……..jatuh cinta pada laki-laki-laki bermata samudra yang telah berhasil menenggelamkan anak bunda semata wayang, anak bunda yang kemarin masih berada di pangkuan bunda, menanti tetesan ASI menetesi tenggorokan. Dan, pagi ini seperti biasa, aku sedang duduk sendiri di bawah pohon depan sekolah, menanti ia lewat yang pasti akan ada senyum dan anggukan ramah yang akan ia persembahkan untukku. Ya tinggal hitungan detik, yup! Satu…dua……..tiga………em………..pat!! itu dia sudah muncul di pintu gerbang, dan…….nah iti dia senyum dan…eh, lho…lho, dia kok berjalan kearahku? Apa hanya perasaan aku saja? Tapi………..
“ Pagi Zha……..!”
“ Pa…pagi Pak…………” Tuhan, aroma tubuhnya! Baru kali ini aku bisa duduk sedekat ini dengan laki-laki ini, laki-laki yang sebenarnya adalah guru bahasa indonesiaku sendiri
“ Bapak ganggu nggak kalo duduk di sini?”
“ nggak kok Pak, ngak apa-apa” jangankan Cuma duduk pak, tiduran juga boleh, ujarku dalam hati. He he nakal ya!
“Bapak lihat sepertinya ini tempat favorit kamu ya?”
“ kok Bapak bisa bilang seperti itu?’
“ Karena Bapak bisa lihat kamu setiap pagi di tempat ini, duduk sendirian lagi! apa kamu memang suka menyendiri?” Duh, senengnya, ternyata Bapak perhatian juga nih sama Zha!
“ Suka menyendiri sih nggak pak, Cuma kalo pas pagi-pagi gini temen-temen kan pada sibuk sama kegiatannya masing-masing tuh, ada yang piket, trus ada juga yang langsung ke kantin karena nggak sempat serapan di rumah.”
“ O. gitu! Nah trus apa yang kamu kerjakan di sini setiap pagi?” Nungguin Bapak! Jawabku (tapi dalam hati lho…..)
“ Nggak ada tuh pak, cuma suka aja duduk di sini”
“ Tapi kamu nggak lagi ada masalah sama temen kamu kan?”
“ Nggak kok Pak.”
“ Bener?”
“ Bener, serius malah.”
“ Bagus kalo begitu. Bapak hanya hawatir mungkin kamu sedang ada masalah dengan teman-teman kamu. Ya udah kalo gitu Bapak ke kantor dulu ya……..”
“ Ia Pak silahkan, makasih ya Pak udah perhatian sama Zha” Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berlalu meninggalkan aku yang masih sibuk menata hati yang baru saja terbang ke nirwana, mana pakek bunga-bunga lagi!
* * *
Sejak saat itu, laki-laki itu semakin sering menghampiriku di bawah pohon tempat biasa aku menunggunya. Hingga kemudian tanpa aku sadari rasa di hatiku semakin menjadi,degup itu semakin kencang ketika ia berada di dekatku, hingga kemudian aku berusaha mencari tahu, apakah rasa ini ia juga merasakannya.
Pagi ini, di hari minggu, dia pergi kerumahku untuk pertama kali. Ku kenalkan ia pada Bunda. Ingin sebenarnya aku ingin mengenalkanya pada Bunda bukan hanya sekedar sebagai guru namun sebagai menantu, namun perasaannya padaku saja aku tak tahu! Sambutan Bunda sangat ramah padanya , mungkin karena dia guruku. Karena sebenarnya Bunda paling tidak suka ada teman cowokku bermain ke rumah, kata Bunda tidak baik untuk gadis seusiaku menerima tamu laki-laki, apa kata tetangga nanti!. Begitulah bunda, dia sangat menjaga kehormatan keluarganya.
Sebenarnya Bunda adalah orang tua tunggalku, Ayah meninggal karena kecelakaan sewaktu aku masih balita, hingga saat ini Bunda belum mau menikah lagi, padahal aku sudah pernah bilang bahwa aku akan sangat bahagia jika Bunda mau mencari pengganti Ayah, namun dia tetap pada pendiriannya. Jika aku paksa dia akan menjawab“ Bunda belum menemukan yang sebaik ayah Zha.”
* * *
Suatu pagi di hari minggu, katika kami sedang serapan.
“ Zha, tadi gurumu itu telfon, dia nanyain kamu, tapi kamu lagi di kamar mandi”
“ Kok nggak di suruh nunggu bentar aja sih Bunda” nadaku sedikit bernada protes pada Bunda, karena ini sudah yang kesekian kalinya laki-laki itu menelponku tapi hanya satu kali dia bicara langsung denganku.
“ Dia tadi bilang nggak usah pas Bunda bilang Bunda mau panggil Zha”
“ Masak ia sih?” Aku masih belum bisa menerima alasan Bunda, karena aku bisa menangkap sesuatu yang sedikit berbeda dari raut Bunda. Sesuatu yang selama ini tak pernah tergambar pada wajahnya, ku lihat ada binar kebahagiaan di sana.
“ Ia, bener, masak Zha nggak percaya sama Bunda sih!” sepertinya Bunda mulai tidak enak dengan sikapku. Ahirnya aku hanya memilih diam saja.
* * *
16 November 2008
Hingga kemudian semua rasa yang mengganjal di hatiku telah terjawab, Bunda hari ini akan menikah dengan laki-laki itu. Ya, laki-laki yang selama ini aku tunggu senyumnya di bawah pohon depan sekolah, laki-laki yang pernah aku hayalkan aku perkenalkan pada Bunda sebagai calon menantu, laki-laki yang selalu membuatku penuh inspirasi baru untuk menghadapi hidup baru ketika bangun tidur dan laki-laki yang…….ah, terlalu banyak hal yang telah aku harapkan bisa aku lakukan bersamanya.
Laki-laki yang kemudian membuatku harus memilih, memilih untuk melepaskan segalanya, laki-laki yang kemudian membuatku harus memilih untuk meninggalkan Bunda, karena rasa ini telah benar-benar nyata. Laki-laki yang mulai detik ini membuatku harus belajar untuk memulai segalanya dari awal kembali, laki-laki yang telah memaksaku untuk menulis cerita ini. Terimakasih laki-laki……!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda