(Tulisan ini kenangan tak terlupakan dengan seorang Karib[Tabri SM])
06 Desember 2009.
Jenuh, itulah yang malam ini ku alami, malam yang senyap sangat terasa bagiku setelah mencoba untuk menghindari teman-temanku yang telah terjebak pada kondisi keterikatan mereka terhadap gegap gembita politk. Melihat kondisi yang bisa-bisa membunuh otakku, ku coba meraih ponselku, ku sms sahabtku, sahabat yang selalu berbagi cerita, berbagi ceria, dan berbagi duka.
Ku mulai menanyakan temanku dengan mengetik "adakah kesibukan yang menghalangi tuk sekedar berbagi cerita denganku malam ini? Ku lagi sepi dalam anganku sendiri" ku kirim pada temanku asep, malam ini ingin berbagi cerita dan kegundahanku pada asep.
Setelah menunggu beberapa menit, ponselku berdering, dan sungguh asep membalas sms ku dengan kata-kata yang mampu menghiburku " Tak usah kau terlalu risau, ketika masih bercumbu dan berpagutan dalam cawan angan masa depan".
Ku balas sms asep dengan perasaan bahwa malam ini aku tidak kesepian untuk berbagi cerita atas kegundahan otakku "Yah itulah kabar yang ingin ku dengar, sungguh menawan membicarakan masa depan yang terkadang suram".
Entah kanapa sms ku berlajut dengan balasan yang juga mulai memberikan pencerahan terhadap pikiranku yang tersedak "sebenarnya selama ini kita hidup di bawah bayang-bayang masa depan, kadang kita takut, brani, pesimis, lelah, tidur, menangis, tertawa, ramai, sunyi, bersama, sendiri"
Unuk selanjutnya berikut rekaman sms ku degan asep (T : tabri, A: Asep)
T: Alah…. Ku ingin benar-benar gila.
A. Tak biasanya kau begitu bernafsu menikmati --- kata nietczhe—kegilaan sesaat?
T. ah… sendiri tak berarti sepi.
A. Hakikat hidup memang sendiri, kita harus belajar menikamatinya.
T. Arif benar kau malam ini, lalu bagaimana ku mau berbagi selembar roti dan secawan madu dengan mu?
A. itu madu dan rotimu, bukan untukku, ku masih punya seteguk kopi di samudera hatiku.
T. Aih… cafein kau cadangkan tuk membangkitkan pembuluh otak, bersulanglah denganku meski hanya dengan 1 sloki anggur, ku punya anggur sisa dari peradaban evanesce.
A. Tidak kawan, anggur mengingatkanku pada bidadari tadi malam.
T. Ah, kau ternyata berselingkuh. Tuk memastikan dirimu laki-laki ku salut padamu. Dari kahyangan manakah bidadari itu hingga kau melupakan sloki dialtar tempat kita bercengkrama?
A. ku tak melupakannya, ia adalah separuh diriku yang tak terjamah. aku rindu dia sekaligus benci. Hantu-hantu malam meneriaku dengan nafsu saat ini.
T. Duh, sungguh indah nian ceritamu, ku ingin masuk peradaban dengan nyanyian-nyanyian yang didendangkan rumi pada kekasihnya, tapi ku terhalang oleh dzikir rabiah, maukah kau menuntunku menuju gurun Sinai? Ku ingin menari di panasnya sahara.
A. Aku lampirkan saja kau lewat email yang hendak ku kirim ke musa malam ini, bagaimana?
T. Sudahlah, ku tahu musa, musa hanya mampu membawa para yahudi keperbatasan Sinai, meski berhasil menyeberangi lautan, mereka tetap tak bertanah air. Sama denganku
A. bukankah aku juga tak berumah?. Akal dan hatiku yang ku anggap rumah untuk berteduh kadang kini ku sangsikan.
T. kau beruntung beridentitas, tidaklah senaif diriku yang gelandangan, kau mampu berfikir meski terbatas, tapi kau punya kuasa pada dirimu, itulah yang ku tak punya.
A. sebenarnya tak ada orang yang betul-betul berkuasa pada dirinya, makanya kadang masih butuh tuhan untuk mengurus nasibku.
T. Tuhan yang mana yang kau impikan? Ketika zaman berputar orang beralih, kenapa harta tuhan, kenapa uang tuhan, kenapa kekuasaan tuhan, perempuanku terkadang menjadi rasulnya, juga temanku.
A. salahkah aku jika aku bertuhan dengan caraku sendir?
T. siapa yang mau menyalahkan kecuali undang-undang Negara, MUI, Kyai, Pendeta, dan Polisi.
A. Kecuali kau juga politisi.
T. Ah naïf benar ku membela diri ketika aktifitasku menjadi agenda politik yang sempit oleh orang yang mengimpikan kekuasaan, sudahlah ku nyata ku ingin berteman saja tidak lebih, ku punya rasa bertahan di dunia cela karena berebut kuasa.
A. Kau keliru menilaiku, aku tidak pernah punya sehelai rambutpun untuk ku jual di pasar politik, lalu bagaimana aku menyesaki pikiranku dengan kebohongan politik?
T itulah prasangka yang sama-sama kita hadapi, naiflah orang ketika mendapati duiaku sebagai dunia rebutan kuasa, karena ku masih punya adam yang terusir dari surga, ku merencanakan hidupku tidak atas nama kekuasaan, tapi kemadirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda