Darah itu aku yang tersedu,
Di altar sunyi menepi
Sebilah belati
Cinta menafkahi dirinya,
Meski dengan caranya sendiri
Aku cinta yang lapar
Makanku sepi,
Malam hari.
Duhai!
Jembatan rindu yang rapuh oleh waktu,
Yang menistakan jiwa-jiwa,
Mendedahlah engkau cinta
Pada batu di sini
Pahatkan namaku dan dia
Allah,
Takdirmu kelu
Hingga aku bisu dan tersedu
Mengapa cinta mewujud derana,
Jika hati mulai menepi
Mengais jiwa-jiwa sunyi yang terserak, terberai-berai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda