Siang yang panas//
Juga hati//
Kata-kata laksana petir//
Menghancurkan sadarku//
Sesibuk itu takdir memaki dan menyalahkanku//
Namun aku tak akan lari//
Akan ku hadapi//
Aku mengair untuk mengejarnya//
Sehingga biar
keluh remuk kesah redam itu//
Aku tetap satu yang berlari//
dan terus//
Hingga saat penaklukan itu datang//
Lalu Aku menang//
Menang//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda