Malam memecah jiwa-jiwa merindu/
Lirih suaramu, Sayang/
Aku rindu sungguh sangat/
Hasrat menggebu menangisi tetakdir/
Di atas altar kerdilnya nasib/
Menangisi yang tak henti/
Menyesali yang tak terjadi/
Aku sayang Kamu/
seperti seharusnya begitu/
seperti tanpa penyesalan/
seperti tanpa tangisan/
Aku tak mendekapmu/
Tapi Kau selalu di Dadaku/
Selalu di sampingku/
Terus ingin/
Aku kau tertawa/
meski berderai-derai sesungguhnya/
Cinta yang berdarah-darah/
Menggenangi nasib/
Mengejar mimpi-mimpi yang terlampau tinggi pada entah/
Suatu ketika/
Walau hanya untuk seutas senyum/
Aku akan menjemput sekeping hati itu/
meski telah luluh lantak dimakan zaman/
sebab sampai kapan pun cintaku tetap perawan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda