Pagi redup
Sudah menyala-nyala api di dadaku
Orang lalu lalang pergi kerja entah kemana
Aku sibuk mencari-cari gayung untuk setumpak Air
Api semakin membesar
Aku kalap dengan ember
Kini tinggal asap dan bara nya yang nyala-redup
Pagi redup
Aku tergesa-mengeja cerita
Menikmati puing-puing cinta
di Belantara
Pagi redup
Aku tertunduk dan berjalan
menjejak hurup demi hurup dari hidup
Pagi redup
Aku masih secercah cahaya
Tahu aku dan hanya aku saja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda