Senin, 04 Juni 2012

REFLEKSI SINGKAT; AL-AMANAH

Tak terasa, setahun--tepatnya dua tahun--terlewati. Hari-hari di Karnas mengendap. Perlahan menjadi abu, lalu tanah, air, dan tempat tinggalku. Sekolah yang, dulu, terdengar asing di telingaku. Nyaris tak ada kaitan antara kejuruan--teknik atau management--dengan PAI sebagai spesifikasi kesarjanaanku. Tapi begitulah fakta, aku bekerja dan mengabdi di Karnas.

Singkat cerita, anda tahu, saya berkecimpung di dalamnya. Tak hanya menjadi guru PAI, namun ditugasi menjadi Wakil dari Pa Yepri. Dia adalah Pimpinan kami semua. Setahun lalu dua tahun terlampaui hingga saat ini ketika tulisan ini dibuat.

Ada banyak kisah dan liku yang dilewati. Pahit manisnya yang unik dan terkenang. Namun getir dan sesaknya juga yang berat. Saat ini malang melintang saling berebut hadir di tempurung otak. Berebut ditulis lebih dulu dan saling menonjolkan diri.

Tepatnya hari ini, selepas upacara bendera seperti biasanya, breafing kami para guru. Beberapa hal saya sampaikan sebagai persiapan bersama menghadapi ujian akhir. Beberapa di antara mereka memberi masukan bagi kelancaran ujian akhir. Itu sangat membantu kami.

Ada rasa yang tanpa diduga menyeruak. Datang dan lahir begitu saja. Sesuatu yang cukup menggelisahkan, sebuah pertanyaan mendasar, apa prestasi saya selama menjabat sebagai wakil kepala sekolah? lama saya berpikir. Hingga saya merasa harus menulis sesuatu di blog ini.

Banyak kekurangan di sana sini. Saya lalu terkenang ketika saya jarang mengingatkan guru-guru mengenai kapan mereka harus siap-siap pemeriksaa administrasi, kapan mereka harus mempersiapkan classvisit. Atau saya juga kadang lalai ketika saya tidak menegur mereka ketika teman-teman saya itu lupa pada tugasnya karena kesibukan dan lain hal. Saya juga sering alpa tidak memikirkan dan membantu bagaimana caranya teman-teman guru saya itu dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi mengajar mereka. Segudang kekurangan saya sebagai manusia datang satu per satu seperti slide dengan animation slow. Jurstu membuat saya malu pada diri saya sendiri, malu sebab pertanyaan tadi lahir di akhir kisah hingga saya tak kuasa menjawabnya dengan percaya diri dan tegar.

Kisah memang tak selalu manis meski semua orang menginginkan hal itu. Begitu juga dengan kisahku. Terutama pergulatan jiwa dan pikiran. Benar kata orang, otak dan hati kita lebih ramai dari pasar sekalipun. Menjadi wakil kepala sekolah bukan tugas yang mudah. Di mata saya itu bukan sesuatu yang layak dibanggakan. Sama sekali bukan. Bagi saya itu amanah. Amanah itu titipan. Titipan itu milik orang lain.

Betapa anehnya jika ada orang yang bangga dengan sesuatu yang bukan miliknya, tetapi milik orang lain. Makin runyam saja kita dengan berdatangannya banyak pertanyaan dan sanggahan sekaligus, apakah kita sudah bisa amanah? sementara sifat itu adalah tuntutan bagi seorang muslim. Malu kita masih shalat kalau uang titipan milik orang lain saja masih kita embat, kita pakai, dan telat mengembalikan pada empunya. Bayangkan jika amanah itu jabatan, harta, kekuasaan, materi dan segala kemegahan dunia!

Lebih dari evaluasi formal, saya yakin, Allah menyaksikan segala yang diperbuat manusia, termasuk saya. Ia Maha Melihat, pun pada diri dan hati terdalam kita semua. Lalu Allah pula lah yang akan membalas atas apa yang kita perbuat, dengan siksa atau dengan pahala dan ridha-Nya. Semoga itu dapat membuat kita semuanya tetap waspada, bukan melulu takut berdosa tetapi melebihi itu karena kita semua ingin Allah cinta, Ingin Allah ridha. Itu saja. Sebab hakekat hidup adalah pengabdian pada Dia.

Siang yang panas ini membangunkan saya dengan sangat sadar bahwa saya harus memperbaiki kinerja, jika pun masih diberi kepercayaan untuk mengemban amanah yang berat ini. Jikapun tidak, semoga Allah mengampuni dosa dan kekeliruan saya selama menjalankan amanah tersebut, dan semoga teman-teman para guru berkenan memberi maaf bagi saya, agar lapang hidup saya di kemudian hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda