Rabu, 20 Juni 2012

Belajar Adil

Segala rasa berkecamuk ketika ada pertempuran sengit antara logika, rasa, hati, ego, cita, hasrat, nurani; apalagi semua itu bertolak pada sebuah lembaga pendidikan, sebuah formalitas dan aturan. Tentu disadari tidak semuanya menjadi tidak mudah, terutama berkaitan dengan birokrasi. Kelu lidah saat berhadapan dengan kekuasaan. Seakan pisau ide dan gagasan pada akhirnya tumpul dan menjadi tumbal bersama.

Sepenuhnya saya sadari, hidup di tengah formalitas memang harus sedikit formal dan kaku. Itu yang saya rasakan ketika harus membuat kebijakan dalam bidang saya sendiri; bahasa lainnya adalah pukul rata. Tidak bisa sebuah kebijakan itu berlaku sepihak, tetap harus sama tanpa pandang bulu.

Di sisi lain, dunia pendidikan adalah dunia ragam, dunia plural, dunia pembelajaran. Di mana tiap anak punya potensi yang berbeda, punya cita-cita yang berbeda pula, punya karakteristik dan kecenderungan yang berbeda, punya cara dan model sikap yang berbeda pula dalam menghadapi dan menempuh sebuah jalan hidup.

Dua sisi di atas saja secara mendasar--di mata saya--sudah bertolak belakang, jika tidak boleh dikatakan saling berbenturan. Satu sisi penampakan dari model rigiditas dan kekakuan, di sisi lain butuh kelenturan dan fleksibelitas agar tujuan pembelajaran dan proses pendidikan dapat berjalan selaras dengan multitalent yang anak-anak miliki.

Hingga yang dihadapi adalah perang antara dua sisi itu. Jujur, sulit mengelak dan membela kepentingan lemah-awam ketika berada pada sistem dan menjadi bagian darinya. Namun lambat tapi pasti ide dan gagasan pembelaan terhadap kaum lemah terus diselipkan sedikit demi sedikit, dibungkus dengan kemasan serapi mungkin. Sebab cuma itu sementara yang dapat dilakukan. Lebih banyak memutuskan dan mengorbankan keadilan atas keberimbangan antar pluralitas tersebut. Jujur.

Senyatanya, bukan mereka yang sakit; sebab kadang mereka terlalu muda untuk merasakan sakit model begitu. Namun tentu saya secara pribadi yang sesak dengan nafas tertahan lalu menghembus perlahan. Saya merasakan sendiri bagaimana pahitnya jadi korban kebijakan. Saya bahkan adalah anak yang sembilan hingga sepuluh tahun yang lalu "dihardik" dan dikeluarkan dari ruangan oleh "petugas" sebab belum membayar administrasi ujian.Saya adalah orang yang waktu itu harus bolak balik kantor-TU-Ruang uji berurusan dengan bendahara sementara anak-anak yang lain sedang mengisi lembar demi lembar soal ujian.

Saya miris menyaksikan setiap jengkal "ketidakadilan" (beginilah saya sekarang yang berada pada struktur; menulis kata ketidakadilan saja mesti pake tanda kutip,hm..). Sebab saya pernah berada di tengah ketidakadilan itu. Saya pernah merasukinya untuk mengungkap segala makna tentang ketidakadilan. Hingga di tengah jalan ada seorang teman--jean Marais--bilang; "Adillah sejak dalam pikiran".

Satu-satunya obat bagi saya adalah kesempatan yang saya dapat untuk bisa selalu mendoakan mereka; mengenang perjuangan dan keluh kesah mereka; menikmati tiap kata-kata murni dan polos mereka; menangisi apa yang menimpa mereka yang tertindas, agar bermurah Tuhan suatu saat menggantikannya dengan full kebaikan dan kemudahan.

"Kau membuatku mengerti hidup ini, kita terlahir bagai selembar kertas putih, tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai, dan terwujud harmoni"--Padi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda